19 November 2018 08:46 wib
  • zakat

 

Oleh: Achyar Zein

(Dosen dan Ketua UPZ UIN SU)

Pada tanggal 19 Nopember 1973 yang lampau didirikan UIN Sumatera Utara Medan yang dulunya disebut dengan IAIN. Kini UIN Sumatera Utara Medan telah berusia 45 tahun yaitu usia yang sudah cukup matang dalam berkiprah. Tidak dapat dipungkiri bahwa masyarakat Sumatera Utara telah merasakan kiprah UIN Sumatera Utara Medan ini khususnya dalam bidang pengembangan mental spritual.

Sebagai lembaga yang bergerak dalam kajian keagamaan maka UIN Sumatera Utara Medan telah memberikan kontribusi yang banyak dalam hal perkembangan pemikiran Islam di daerah ini. Sebagai salah satu kampus harapan masyarakat maka UIN Sumatera Utara Medan terus saja berbenah karena tidak ingin dianggap sebelah mata oleh kampus-kampus lain.

Meskipun akhir-akhir ini dibuka fakultas-fakultas umum namun UIN Sumatera Utara tidak mau kehilangan jati dirinya. Fakultas-fakultas umum ini dibalut dengan pengetahuan agama untuk mengaktualisasikan ajaran-ajaran Alquran dalam setiap lini kehidupan masyarakat.

UIN Sumatera Utara Medan adalah salah satu perguruan tinggi yang tetap bersikukuh mempertahankan nilai-nilai dan ajaran-ajaran agama. Agaknya tidak terlalu berlebihan jika dikatakan bahwa UIN Sumatera Utara Medan adalah satu-satunya kampus di Sumatera Utara yang terus mengembangkan diri untuk mempelajari ilmu-ilmu agama.

Selain pengembangan nilai dan ilmu agama maka UIN Sumatera Utara juga dituntut lebih peka dalam urusan-urusan sosial kemasyarakatan. Mengingat bahwa keberadaan UIN Sumatera Utara Medan sebagai "jantung hati" umat Islam di daerah ini maka UIN Sumatera Utara harus memiliki berbagai terobosan baru.

Salah satu terobosan baru dimaksud adalah berdirinya Unit Pengumpul Zakat (UPZ) di samping terobosan-terobosan lainnya. Meskipun secara teoritis kajian tentang zakat ini sudah dimulai semenjak UIN Sumatera Utara Medan didirikan namun pelaksanaannya secara internal kampus baru dimulai beberapa bulan terakhir ini.

Pada umumnya, mahasiswa yang memilih UIN Sumatera Utara Medan adalah mereka yang strata ekonominya menengah ke bawah. Penulis selalu melihat sebagian mereka bekerja sambil kuliah seperti menjual rokok asongan, pramusaji, menarik beca, menunggu masjid dan bahkan ada yang menjadi pembantu rumah tangga.

Semangat mereka untuk kuliah inilah yang direspon oleh rektor UIN Sumatera Utara Medan dengan cara meringankan beban kuliah yang mereka hadapi. Salah satu yang dianggap potensial meringankan beban mereka ini adalah memungut zakat dari keluarga besar UIN Sumatera Utara Medan dan juga dari pihak external.

UIN Sumatera Utara Medan dengan jumlah dosen dan tenaga administrasi yang melebihi 750 orang memiliki potensi zakat yang sangat signifikan. Potensi ini sudah mulai berjalan di bawah kepemimpinan rektor Prof. Dr. Saidurrahman, M.Ag dengan membentuk Unit Pengumpul Zakat (UPZ) yang penulis ditunjuk sebagai ketuanya.

Pada awalnya, kehadiran UPZ di UIN Sumatera Utara Medan tetap saja mengundang kontroversial dari pihak-pihak tertentu. Bahkan ada sebagian kecil yang tidak bersedia dipungut zakatnya melalui lembaga ini dengan berbagai macam alasan. Alasan yang dikemukakan tetap saja bernuansa fikih orientid tanpa mengedapankan keumuman ayat-ayat Alquran tentang zakat.

Alasan-alasan yang dikemukakan persis seperti yang terdapat di tengah-tengah masyarakat banyak. Zakat masih dipandang sebagai bagian integral dari fikih ibadah dengan mengedepankan konsep hubungan manusia dengan Tuhan. Seharusnya, zakat dipandang melalui perspektif fikih ekonomi dimana nuansa kemanusiaan kental di dalamnya.

Oleh karena itu, perbincangan yang sering muncul dari persoalan zakat adalah "sah" atau "tidak sah." Faktor inilah yang diduga kuat sebagai salah satu penyebab bahwa zakat selalu "jalan di tempat". Berbeda halnya jik zakat ditinjau melalui perspektif ekonomi yang orientasinya yaitu "efektif atau tidak efektif."

Ketika zakat dipandang melalui konteks fikih maka yang muncul adalah aturan-aturan yang terkesan "jelimet" sehingga lupa melakukan "action". Aturan-aturan semacam inilah yang dipegang oleh sebagian orang ditambah lagi dengan adanya rasa curiga yang terlalu berlebihan kepada pihak pengurus.

Alasan yang paling sering dikemukakan adalah bahwa rata-rata ASN memiliki hutang dan mereka anggap bahwa hutang tersebut dapat menggugurkan kewajiban zakat. Padahal, hutang ASN bukan untuk bertahan hidup tetapi untuk menambah fasilitas dan kenikmatan hidup. Oleh karena itu, Alquran menggunakan kata al-gharimun untuk zakat bukan al-da'inun.

Bagi pengelola UPZ UIN Sumatera Utara ditambah lagi dengan kuatnya motivasi dari rektor dan para dekan memandang bahwa kontroversial ini adalah hal yang lumrah terjadi. Terlebih lagi jumlah yang seperti ini tidak begitu signifikan maka UPZ terus berjalan dan sudah menunjukkan hasil yang membanggakan.

Efektip pemungutan zakat baru dilakukan beberapa bulan pada tahun 2018 ini (Mei – Nopember) dan itupun masih terbatas pada pendapatan tertentu (belum menyeluruh). Adapun jumlah dana zakat yang sudah terkumpul hampir mencapai angka Rp. 1.000.000.000,- (satu milyar rupiah).

Pada prinsipnya, jumlah di atas masih belum seimbang bila dibanding dengan jumlah ASN dan BLU di UIN Sumatera Utara Medan. Di pihak lain, jumlah pendapatan inipun masih belum seimbang juga bila dibanding dengan jumlah mahasiswa yang kurang mampu.

Meskipun demikian, pada awal semester ganjil tahun 2018, UPZ UIN Sumatera Utara Medan sudah menyalurkan zakatnya kepada sekitar 400 orang mahasiswa dari berbagai fakultas. Kuat dugaan bahwa untuk semester genap tahun 2018 ini jumlah mahasiswa yang menerima zakat dapat meningkat lagi.

Pemberian santunan kepada mahasiswa melalui UPZ ini diorientasikan kepada pembayaran SPP dengan menganut sistem proporsional. Maksudnya, UPZ membayarkan uang SPP mahasiswa yang bersangkutan (sesuai jumlah SPP masing-masing fakultas) yaitu sebesar 80 %.

Tidak dapat dipungkiri bahwa masih terdapat kekurangan-kekurangan pada pelaksanaan UPZ UIN Sumatera Utara Medan. Tentu saja pihak pengelola akan berlapang dada menerima kritik konstruktif dari berbagai pihak supaya kehadiran UPZ UIN Sumatera Utara Medan dapat dirasakan oleh mahasiswa yang kurang mampu dan juara pula dalam pandangan Tuhan.

Terlepas dari kekurangan-kekurangannya namun yang pasti adalah bahwa gendrang UPZ UIN Sumatera Utara Medan telah ditabuh. Meskipun pembagiannya belum melebar ke ashnaf-ashnaf yang lain sebagaimana yang diinginkan oleh Alquran namun inilah realita yang masih mungkin dilakukan.

Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan bahwa UIN Sumatera Utara Medan memiliki potensi pengembangan zakat. Melalui pengembangan zakat inilah keinginan Rektor  UIN Sumatera Utara Medan dapat disahuti yaitu "jangan tidak sarjana karena miskin."