26 November 2018 09:02 wib
  • zakat

 

Oleh Achyar Zein Dosen Pascasarjana UIN SU

Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk (QS. al-Baqarah ayat 43)

Perintah mendirikan shalat dan membayar zakat pada ayat di atas ditujukan kepada bani Israil karena pangkal ayat 40 memuat seruan kepada mereka. Selain seruan untuk mendirikan shalat dan membayar zakat terdapat juga seruan-seruan lain yang harus mereka laksanakan.

Seruan kepada bani Israil menunjukkan bahwa kewajiban melaksanakan shalat dan zakat bukanlah ajaran baru yang dibawa oleh Islam tetapi sudah berlaku pada masa bani Israil. Dalam istilah ushul fiqh hal ini disebut dengan syar’un man qablana (syariat orang-orang yang sebelum kita).

Pengulangan perintah ini oleh Alquran menunjukkan bahwa tidak ada istilah “kadaluarsa” dalam urusan shalat dan zakat. Keduanya tetap saja urgen dalam kehidupan beragama sehingga Alquran mengeksiskannya untuk membangun relasi dengan Tuhan dan dengan manusia.

Salah satu pengabdian yang wajib dilakukan manusia adalah shalat dan zakat. Shalat adalah media menyucikan ruhani untuk mengakses kebesaran Tuhan sedangkan zakat adalah media mensucikan jasmani karena jasmani terlibat juga dalam pengabdian.

Shalat dengan zakat adalah dua hal yang selalu digandengkan di dalam Alquran. Penggandengan kedua kewajiban ini menunjukkan ada hubungan yang erat antara shalat dengan zakat dan karenanya harus dilakukan secara seimbang.

Karena itu kesempurnaan shalat dapat dilihat dari kesempurnaan zakat. Hubungan keduanya timbal balik dan saling memberikan kontribusi karena shalat simbol hubungan kepada Tuhan dan zakat adalah simbol hubungan kepada sesama manusia.

Alasan ini yang digunakan Abu Bakar ra memerangi orang-orang yang enggan berzakat. Menurutnya, orang-orang yang mengingkari kewajiban zakat sama dengan mengingkari kewajiban shalat karena Alquran menyebutnya bersamaan.

Dari segi praktek terdapat hal yang paling kontras dimana shalat selalu diprioritaskan dari zakat. Hal ini dapat dilihat dari persoalan zakat yang sampai sekarang belum memberikan kontribusi terbaik dalam rangka mendongkrak angka-angka kemiskinan.

Urgensi menyamakan kedua perintah ini dapat juga dilihat dalam QS. al-Ma’un yang mengidentikkan orang-orang yang mengabaikan zakat sama dengan pendusta agama. Meskipun dalam ayat ini zakat tidak disinggung secara langsung namun sudah dapat dipahami ketika menyebut anak yatim dan orang miskin.

Pada ayat selanjutnya disebutkan bahwa neraka wayl bagi orang-orang yang shalat karena mereka lalai dari pesan-pesan shalatnya. Pesan shalat dimaksud disebutkan pada ayat sebelumnya yaitu lalai membantu anak-anak yatim dan lalai memberi makan orang-orang miskin.

Tujuan pernyataan ini adalah sangat tidak etis jika ada yang mengerjakan shalat sementara di sekelilingnya masih terdapat anak yatim dan orang miskin yang membutuhkan bantuannya. Karena itu shalat yang baik akan membuat pelakunya memiliki respon terhadap penderitaan anak yatim dan orang miskin.

Dalam tataran ini ada isyarat yang harus dipahami bahwa kajian terhadap kewajiban tidak dapat dilakukan secara parsial tetapi harus menyeluruh. Kuat dugaan, karena selama ini kita selalu mengkaji shalat maka kajian tentang zakat terabaikan sehingga muncul anggapan semua akan beres jika shalat sudah beres.

Semua kewajiban ini adalah satu kesatuan yang masing-masing memberikan andil sesuai dengan bidangnya. Ketika Alquran menggandeng shalat dengan zakat maka makna yang harus dipahami adalah bahwa keduanya memiliki peran yang sama dalam mencapai keridhaan Tuhan.

Shalat adalah simbol dari tauhid langit karena shalat media yang dapat menghubungkan manusia dengan Tuhan yaitu hubungan ruhani. Adapun zakat adalah simbol dari tauhid bumi karena zakat dapat menghubungkan manusia dengan sesama manusia yaitu hubungan jasmani.

Penggandengan shalat dengan zakat dalam Alquran memuat pesan bahwa hubungan kepada Tuhan harus dilakukan secara seimbang dengan hubungan kepada sesama manusia. Dengan demikian, shalat dan zakat adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia.

Uraian di atas menunjukkan bahwa salah satu tujuan Alquran ketika mensejajarkan kewajiban shalat dengan zakat adalah untuk menunjukkan cinta Tuhan kepada manusia. Karena itu, pengabdian yang terbaik apabila terjalin keseimbangan antara pengabdian kepada Tuhan dan kepedulian kepada manusia.

Kesetaraan perintah shalat dengan zakat sudah ada pada masa bani Israil, demikian yang dapat dipahami dari Alquran. Hal ini dapat dilihat di dalam Q.S. al-Baqarah ayat 40 yang memerintahkan orang-orang Israil supaya mengingat nikmat Tuhan dan menepati janji dengan-Nya.

Ketika perintah shalat dan zakat disetarakan berarti keduanya (shalat dan zakat) memiliki hubungan yang erat dengan nikmat dan janji. Karena itu, shalat adalah bentuk penyempurnaan janji kepada Tuhan sedangkan zakat berkaitan dengan nikmat yang diberikan-Nya.

Shalat dan zakat harus berjalan secara sinergik di dalam kehidupan. Di dalam shalat terdapat janji dengan Tuhan yaitu hidup dan mati hanya untuk-Nya. Adapun pesan-pesan yang terkandung di dalam zakat berkenaan dengan banyaknya nikmat yang sudah diberikan Tuhan.

Shalat dan zakat adalah dua bentuk ibadah yang sudah ada sebelum Islam datang. Hal ini menunjukkan bahwa keduanya (shalat dan zakat) memiliki urgensi yang signifikan dalam kehidupan manusia sehingga Alquran merasa penting untuk melestarikan keduanya.

Urgensi shalat di dalam kehidupan dapat dijadikan sebagai media untuk melakukan komunikasi dengan Tuhan. Komunikasi inilah yang menjadi kontrol bagi manusia agar berperilaku seperti prilaku Tuhan dan karenanya shalat dapat mencegah keji dan munkar.

Adapun urgensi zakat di dalam kehidupan adalah untuk menyambung silaturrahim antar sesama manusia. Ketika kemampuan manusia tidak sama dalam memenuhi kebutuhan hidup maka zakat adalah sebagai media yang dapat memberikan solusi untuk memenuhi kebutuhan.

Dengan demikian, penyetaraan antara shalat dengan zakat bukan merupakan syari’at baru yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Syariat ini sudah diberlakukan kepada umat-umat terdahulu yang secara otomatis bahwa shalat dan zakat adalah media yang paling efektif untuk melakukan hubungan dengan Tuhan dan manusia.

Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan bahwa penggandengan shalat dan zakat menunjukkan adanya korelasi yang kuat antara keduanya. Korelasi dimaksud adalah bahwa ibadah yang baik tidak hanya melulu pada urusan ketuhanan tetapi harus diseimbangkan dengan  urusan kemanusiaan.